Ketika mendengar istilah sertifikasi ISO, sebagian orang mungkin langsung membayangkan sebuah sertifikat yang nantinya dipajang di kantor atau dicantumkan dalam profil perusahaan.
Padahal, sertifikat hanyalah salah satu hasil dari proses tersebut. Hal yang lebih penting adalah sistem yang berada di balik sertifikat itu sendiri. Misalnya, sebuah UMKM memiliki prosedur untuk memastikan kualitas produknya tetap konsisten. Prosedur tersebut tidak akan banyak berarti jika hanya dibuat sebagai dokumen untuk memenuhi kebutuhan audit, tetapi tidak pernah benar-benar digunakan dalam aktivitas sehari-hari.
Begitu pula dengan pencatatan, evaluasi, pengendalian risiko, penanganan ketidaksesuaian, hingga upaya perbaikan. Semua itu perlu menjadi bagian dari sistem yang benar-benar diterapkan oleh organisasi.
Setelah memahami bahwa ukuran perusahaan bukan menjadi penghalang, pertanyaan berikutnya adalah: ISO yang mana? Tidak ada satu standar ISO yang otomatis cocok untuk semua UMKM. Kebutuhan sebuah perusahaan manufaktur tentu berbeda dengan perusahaan jasa. UMKM yang memproduksi makanan juga memiliki kebutuhan yang berbeda dengan kontraktor atau perusahaan yang aktivitasnya memiliki risiko keselamatan kerja. Karena itu, pemilihan standar sebaiknya dimulai dari kebutuhan bisnis, bukan sekadar mengikuti perusahaan lain. Jika tantangan utama perusahaan berkaitan dengan konsistensi kualitas produk atau layanan, misalnya, ISO 9001 dapat menjadi salah satu standar yang relevan untuk dipertimbangkan.
Sementara itu, organisasi yang memiliki aktivitas dengan risiko keselamatan dan kesehatan kerja dapat mempertimbangkan ISO 45001. Bagi organisasi yang perlu mengelola aspek dan dampak lingkungan, ISO 14001 dapat menjadi pilihan. Sedangkan bagi pelaku usaha di sektor pangan, ISO 22000 berkaitan dengan sistem manajemen keamanan pangan.
Pada akhirnya, pertanyaan “Apakah UMKM bisa mendapatkan sertifikasi ISO?” sebenarnya memiliki jawaban yang cukup sederhana: bisa.
Namun, mendapatkan sertifikasi ISO bukan berarti perusahaan harus terlebih dahulu berubah menjadi organisasi besar dengan struktur yang rumit. Sebuah UMKM dapat mulai dari sistem yang memang sudah dimilikinya, kemudian mengidentifikasi bagian yang perlu diperbaiki, menyesuaikannya dengan persyaratan standar, menerapkannya secara konsisten, dan melakukan evaluasi secara berkala. Karena itu, mungkin sudah waktunya mengubah cara pandang terhadap ISO.